Kegiatan Pojok Al Fath Warga Biasa Yang Menjadi Wartawan
Sunday, 25 September 2011 11:02 Written by Administrator

Warga Biasa Yang Menjadi Wartawan

Warga Biasa Yang Menjadi Wartawan
Click to preview image

Warga Biasa Yang Menjadi Wartawan

September 26, 2011 by mengikatmakna

 



Untuk mengabarkan sebuah peristiwa, opini, atau kritik, kini tidak lagi menjadi wilayah kekuasaan para wartawan, atau media main stream, seperti Radio, Koran, Majalah, dan TV.  Warga biasa, kini juga punya hak dan kesempatan yang sama untuk melakukan itu. Istilah populernya adalah Citizen Journalisme, warga biasa yang menjadi wartawan.

Dalam era digital abad ini, kanal informasi telah terbuka luas. Warga biasa dapat menggunakan platform media seperti Facebook, Twitter, Blog, TV Komunitas, Radio Komunitas, atau Koran Komunitas, dalam mengabarkan berita atau menyampaikan pendapat. Dengan maraknya fenomena ini, maka persoalan berikutnya adalah seberapa jauh warga bisa secara bebas mengemukakan pendapatnya? Rambu-rambu apa yang harus dimiliki agar kebebasan itu tidak kebablasan, khususnya untuk warga muslim?

Pada hari Ahad, 25 September 2011, bertempat di Masjid Al-Fath, di dalam kompleks Perumahan Vila Nusa Indah 3, digelar sebuah diskusi jurnalistik, membicarakan persoalan fiqih ikhtilaf tentang bagaimana membuat dan mengkritik berita menurut Islam. Diskusi itu disampaikan oleh narasumber Ustadz Aceng Muaz. Pada sesi berikutnya langsung disambung dengan paparan materi tentang jurnalisme warga, yang disampaikan oleh Wahyu Utomo, redaktur ekonomi Harian Jurnal Nasional. Diskusi berlangsung meriah, dengan moderator Hartono Rakiman. Acara yang berlangsung sejak pukul 09.30 pagi dan berakhir usai shalat dhuhur ini, dibuka oleh DTM Al-Fath, Bambang Widuri.

Inti dari diskusi itu adalah bahwa memberikan kritik itu dalam perspektif Islam adalah dalam rangka menegakkan amar maruf nahi munkar. Tinggal caranya dalam menyampaikan kritik, apakah secara tertutup atau terbuka, alias terang-terangan. Ada 5 prinsip utama dalam menyampaikan kritik, yaitu bebas dan bertanggung jawab, jujur, adil, tidak memihak, keakuratan informasi, dan kritik konstruktif. Apa yang disampaikan oleh Ustadz Aceng Muaz dapat dijadikan landasan oleh umat Islam dalam menyampaiakn kritik. Sementara itu, paparan dari nara sumber kedua, yang juga redaktur harian Jurnal Nasional memberikan tips-tips jitu dalam membuat reportase dan menulis.

Diskusi ini masih perlu dilanjutkan dengan seri diskusi lanjutan berupa Teknik Reportase dan Teknik Menulis, yang rencananya akan dilaksanakan secara berturut-turut pada tanggal 16 Oktober, 20 November dan 18 Desember 2011.

Kini, Masjid Al Fath juga telah memiliki wadah untuk menyampaikan kritik, tentang persoalan jamaah, persoalaan sehari-hari di web site www.masjidalfath.com yang diawaki oleh Zainudin Asnawi. (Hartono Rakiman)

Last modified on Wednesday, 28 September 2011 14:52

3 comments

  • Comment Link sanhvcnub Wednesday, 23 August 2017 03:30 posted by sanhvcnub

    Продвижение сайтов сателлитами

    This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
  • Comment Link cell phone ratings Friday, 05 May 2017 18:29 posted by cell phone ratings

    That is what i exploit. Ebid also uses Google. http://hinrichsen00mogensen.blog.fc2.com/blog-entry-1.html

    This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
  • Comment Link Verizon phones cheap Friday, 05 May 2017 10:10 posted by Verizon phones cheap

    Actually, in our experience, unhappy clients who are asked
    for their opinion on an app are 400 p.c more more likely to return to the app than the average app buyer.

    Clients relate to manufacturers once they feel their opinion is valued, hopefully leading
    to happiness instead of what was initially dissatisfaction. http://www.slideserve.com/viborg39duus

    This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Add comment